Selasa, 10 Desember 2013

Pendidikan Karakter



“Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk 275 juta penduduk Indonesia”
Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
o    158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
o    42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
o    30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
o    Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Sumber : Litbang Kompas
Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.
Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.
Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.
Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.
Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?
Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.
Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak “kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan  di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup  terpenjara oleh keyakinannya yang salah.
Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?
Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)




Pengertian Pendidikan Karakter



Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli
1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
Nilai-nilai dalam pendidikan karakter
Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.
Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.




Rabu, 04 Desember 2013

Cerita tentang sekolahku



Semakin Membaik
Kebersihan sebagian dari iman. Kebersihan yang selalu di jaga akan berdampak positif di bidang kesehatan. Suatu penyakit yang menyerang juga bisa di sebabkan oleh tingkat kesehatan yang rendah. Menjaga kesehatan itu penting dan dapat dilakukan dari lingkup yang terkecil yaitu lingkup keluarga, kemudian d lingkup sekolah da lingkup masyarakat.
Di SMA Bentara Wacana kebersihan sekolahnya dibantu oleh seorang laki-laki parubaya yang bertempat tinggal di daerah candimulyo yang bernama bapak Heralius Rahayu. Laki-laki yang sering di panggil Pak Yus oleh murid-murid  SMA Bentara Wacana ini membantu kebersihan di SMA Bentara Wacana sudah 3 tahun, dan 3 bulan yang lalu Pak Yus di percayai oleh sekolah untuk menjadi coordinator kebersihan di SMA Bentara Wacana. Pak Yus sangat menyukai pekerjaannya saat ini. “saya bekerja disini itu adalah menurut sebuah panggilan untuk melayani di SMA Bentara Wacana ini, dan saya bekerja paling lama hanya waktu di sini”. Pernyataan pak Yus kepada kami.
Selama pak Yus bekerja membantu kebersihan di SMA Bentara Wacana, laki-laki berbadan tegap itu merasakan ada perkembangan dalam bidang kebersihan  di SMA Bentara Wacana dari pertama pak Yus menbantu kebersihan hingga sekarang ini karena keadaan SMA Bentara Wacana yang dulu tidak seperti yang sekarang.
Sekarang di SMA Bentara Wacana bantak di Tanami rumput-rumputan, pepohonan dan banyak perubahan yang terjadi. Dan rata-rata siswa-siswi yang sekarang lebih peka  dengan kebersihan sekolah dan selalu menjaga kebersihannya. Sejauh ini murid-murid dan para guru juga ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan sekolah. Dan yang sering dilakukan oleh siswa-siswi dalam berpartisipasi menjaga kebersihan adalah membuang sampah pada tempatnnya. Laki-laki yang sudah beristri ini membantu menjaga kebersihan di sekolah dengan selalu menyapu lantai depan kelas, menyapu lantai ruang guru,  membersihkan kamar mandi dan membersihkan kaca-kaca jendela. Selama bekerja di SMA Bentara Wacana ini pak Yus tidak pernah merasa ada halangan yang berarti dalam melaksanakan tugasnya, hal ini terlihat jelas setelah pak Yus berkata “selama saya bekerja disini tidak ada halangan yang berarti dalam melaksanakan tugas saya “. Pak Yus sangat senang dan bangga bisa membeantu menjaga kebersihan di SMA Bentara Wacana. Pesan pak Yus kepada murid-murid di SMA Bentara Wacana ini harus selalu menjaga kebersihannya.
Menurut pernyataan seorang siswa yang bernama Angel, tingkat kebersihan di SMA Bentara Wacana sudah cukup baik, tetapi masih ada beberapa siswa yang menyelewengkan dengan sering membuang sampah tidak pada tempatnya. Kemudian menurut pernyataan seorang guru bahasa Indonesia yang pernah menjabat menjadi wakil ketua bidang kesiswaan di SMA Bentara Wacana  yang bernama Bu Nur Wijayanti bahwa tingkat kebersihan di SMA Bentara Wacana sudah cukup bagus. “ kebersihan di SMA Bentara Wacana sudah cukup bagus, tetapi masih ada beberapa siswa yang masih lupa piket kelas dan lupa membuang sampah pada teumpatnya. Tetapi rata-rata murid di SMA Bentara Wacana sudah mau menjaga kebersihan kok”. Ujar bu Nur
lalu menurut bu M.G Elly Kustanti selaku coordinator keindahan taman mengaku baahwa kebersihan di SMA Bentara Wacana sudah cukup bagus. “ di SMA Bentara Wacana ini kebersihannya cukup bagus dan juga keindahan tamannya selalu di jaga. Murid-murid yang sekarang sangat peka dan sadar tentang keindahan taman dan kebersihan di sekolah ini. Kalu guru-guru tidak terjun langsung menjaga kebersihan dan keindahan taman, tetapi memberi pengarahan agar taman tetap terjaga. Saran saya kebersihan di kelas juga harus di maksimalkan agar proses belajar dan mengajar di kelas itu bisa nyaman”.
                Upaya-upaya yang telah di lakukan demi terjaganya kebersihan di SMA Bentara Wacana yaitu guru-guru selalu mengingatkan murid-murid untuk piket kelas dan menjaga kebersihan, kemudian juga mengadakan kerja bakti. “dan kebersihan yang sekarang lebih tertata dari pada yang dulu, tetapi kalau tamanya lebih indah yang dulu . karena , kalau yang sekarang pohon-pohon sudah banyak yang di tebang semenjak erupsi merapi 3 tahun yang lalu”. Ujar bu Elly
Dari keempat pendapat tersebut dapat disimpuulkan bahwa tingkat kebersihan di SMA Bentara Wacana sudah cukup baik, tetapi masih perlu di tingkatkan.