DI TENGAH
KEGELAPAN MALAM
Suatu hari saya pergi ke gereja untuk menghadiri rapat.
Ketika rapat saya selalu melihat ke arah jam yang berada di Hand Phone saya,
untuk mengetaui sudah berapa lama rapat ini berlangsung. Karena ibu saya
berkata “ koe ojo bali wengi – wengi!” . Setelah rapat berjalan dua setengah
jam saya mulai melupakan perkataan ibu saya dan menjalani rapat dengan lebih
santai,
Rapatpun
berakhir pukul 10.15 malam. Tetapi saya tidak bergegas pulang, melainkan masih
di sana untuk berbincang – bincang dengan teman saya yang pukul 10 malam baru dating. Setelah kira – kira 30
menit saya berbincang – bincang saya akhirya memutuskan untuk berpamitan dan
pulang.
Saya
mulai teringat kebali dengan perkataan ibu saya agar saya tidak pulang terlalu
malam di jalan, yang membuat saya mulai mempercepat laju motor saya hingga 100
km/jam.
Disaat
saya memacu motor saya, saya mulai merasakan perasaan yang tidak enak yang
membuat pikiran saya melayang – layang bagaikan layangan yang terombang –
ambing di langit terkena angina yang kencang. Perasaan saya semakin tidak enak
setelah saya memasuki gang menuju rumah saya yang terlihat sangat gelap karna
lampu yang berada di rumah tetangga mati.
Sesampainya
di garasi rumah saya mematikan motor dan wow, saya tidak dapat melihat apapun.
Saya mulai merasa takut dan berfikiran akan melihat sesuatu mengerikan. Tanpa
pikir panjang saya segera mengeluarkan Hand Phone yang berada di dalam saku
celana saya dan bergegas membuka pintu rumah. Tidak terlihat sedikitpun kehidupan
di ruang bawah. Saya melihat kekanan dan kekiri untuk memberanikan diri bahwa
tidak ada yang akan memperlihatkan diri dalam bentuk apapun.
Karena
saya sudah memastikan bahwa tidak ada orang di runga bawah saya memutuskan
untuk memasukan motor ke dalam rumah. Semakin lama saya semakin ketakutan dan
pikiran saya semakin berandai – andai, hingga membuat saya tidak dapat
memesukan motor ke dalam rumah karena ada sedikit halangan pada ban belakang.
Semakin
lama perasaan saya semakin menjadi – jadi. Saya merasa aka nada yang mendekati
saya. Tidak lama kemudian ketika saya yang masih memegang motor, saya melihat
cahaya dari runga atas perlahan – lahan menuruni tangga demi tangga. Detak
jantung saya semakin cepat an berfikiran akan melihat sesuatu, disaat yang sama
saya ingin lari sejauh dan secepat mungkin untuk mencari sedikit cahaya lampu,
tapi naasnya semua tidak terlihat oleh mataku, karena semuanya (tanah, batu,
jalan, dinding, pepohonan, dsb) ditelan oleh gelapnya malam tanpa sedikitpun
cahaya termaksud cahaya bulan. Cahaya itupun semakin mendekat, seperti suatu
misteri yang berada dalam kegalapan. Akhirnya cahaya itu menunjukan wujud
aslinya. Tanpa saya sangkan adik saya hadir dengan sebuah lilin di tangan. Saya
sangat lega melihat adik saya mulai menerangi sekitar ruangan bawah yang
memudahkan saya untuk memasaukan motor ke dalam rumah.
Tidak
lama kemudian listrik di rumah pun hidaup dan disusul orang tua saya yang baru
pulang dari rumah saudara.
Kegelapan
biasanya menimbulkan ketakutan dalam diri seseorang. Tetapi ketika kita percaya
dan menyerahan segala sesuatu yang akan terjadi kepada Tuhan, kita pasti akan
diberi jalan yang terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar