KETIKA PERCAYA
PASTI ADA JALAN
Eka Meilani biasa di panggil Eka. Ia
adalah seorang Muslim Muhamadiah. Agama Islam dibedakan menjadi 2 yaitu: Islam
MUhamadiah dan Islam NU, banyak perbedaannya. Salah satunya adalah bahwa di
Agama Islam Muhamadiah tidak mengakui beberapa adat Jawa seperti memperingati 3
hari kematian, 7 hari kematian, dan seterusnya, yang membuat Agama Islam
Muhamadiah terlihat membuat jarak dengan masyarakat sekitar yang beragama lain
yang percaya pada adat Jawa. Tetapi berbeda dengan Eka. Ia adalah seorang
Muslim Muhamadiah yang tetap teguh dengan kepercayaannya tetapi ia tidak
membuat jarak dengan teman ataupun orang yang berbeda kepercayaan dengan
dirinya.
Eka Meilani adalah murid kelas XI IPA di SMA
Bentara Wacana Muntilan. Ia lahir di Magelang pada tanggal 16 Mei 1997. Ia
tinggal di Kadirojo, Muntilan bersama dengan kedua orang tuanya dan seorang
adik. Ayahnya bernama Triwanto, Ibunya bernama Maryani, dan adiknya yang
sekarang duduk di kelas 6 SD bernama Ana Dwijayanti. Eka memiliki hobby
membaca, menyukai makanan yang berbahan dasar mie dan es jeruk.
Eka memiliki pengalaman yang takan pernah
ia lupakan. Yaitu adalah ketika ia jatuh dari atas pohon talok dan ia pernah
mengiuti OSN tingkat SMP pada mata pelajaran Fisika yang sekarang menjadi
pelajaran yang paling ia tidak sukai.
Eka pernah bersekolah di SD Caturharjo
Sleman, di SMP Muhamadiah 1 Muntilan, dan sekarang ia bersekolah di SMA Kr
Bentara Wacana muhntilan. Ia awalnya tidak berfikir untuk besekolah di SMA Kr
Bentara Wacana Muntilan. Alasan mengapa ia bersekolah di SMA Kr Bentara Wacana
adalah karena keluarganya tidak memiliki biaya untuk sekolah dan akan dikirim
ke Pondok Pesantren di tempat yang jauh dari rumahnya, tetapi oleh tantenya ia
di minta untuk bersekolah di SMA Kr Bentara Wacana, dan akhirnya ia masuk ke
SMA Kr Bentara Wacana ini.
Inilah awal mula penderitaan Eka Meilani.
Ia sebagai seorang Muslim Muhamadiah yang awalnya bersekolah di SMP Muhamadiah
yang seluruh murid sekolah itu adalah seorang Muslim MUhamadiah merasa tertekan
karena ejekan dan caci maki yang diberikan teman – temannya di SMP ketika tahu
ia bersekolah di SMA Kr Bentara Wacana. Ia sungguh kesal dan marah kepada teman
– temannya itu. Tetapi ini memang cobaan yang diberikan Tuhan untuknya. Dan akhirnya
ia menyadari bahwa hidup dalam perbedaan adalah suatu anugrah dan cobaan yang
diberikan Tuhan untuknya itu bertujuan agar ia dapat lebih sabar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar